Tuesday, August 29, 2017

Kambing dan Hujan



Harus diakui, awalnya sempat skeptis dengan buku ini. Terlebih, tidak paham mengapa berjudul demikian. Memangnya, ada apa dengan kambing dan hujan? Bukakah keduanya merupakan entitas yang berbeda? Hingga akhirnya membaca buku ini, barulah menyadari adanya korelasi antara hewan bernama "kambing" dengan kejadian alam bernama "hujan".



Penulis: Makhfud Ikhwan
Jumlah halaman: 374 halaman
Tahun terbit: 2015
Penerbit: Bentang Pustaka
Format: paperback
Rating Shiori-ko: 4/5
Sinopsis:

Miftahul Abrar tumbuh dalam tradisi Islam modern. Latar belakang itu tidak membuatnya ragu mencintai Nurul Fauzia yang merupakan anak seorang tokoh Islam tradisional. Namun, seagama tidak membuat hubungan mereka baik-baik saja. Perbedaan cara beribadah dan waktu hari raya serupa jembatan putus yang memisahkan keduanya, termasuk rencana pernikahan mereka.

Hubungan Mif dan Fauzia menjelma tegangan antara hasrat dan norma agama. Ketika cinta harus diperjuangkan melintasi jarak kultural yang rasanya hampir mustahil mereka lalui, Mif dan Fauzia justru menemukan sekelumit rahasia yang selama ini dikubur oleh ribuan prasangka. Rahasia itu akhirnya membawa mereka pada dua pilihan: percaya akan kekuatan cinta atau menyerah pada perbedaan yang memisahkan mereka.


***

Sebelumnya memang sempat mengetahui kalau buku ini menawarkan sesuatu yang erat kaitannya dengan kehidupan kita, namun tidak begitu sering dibahas. Belakangan, malah direkomendasikan. Katanya memang bagus. Tentang pandangan mengenai agama dan pernikahan. Sampai di situ, dorongan untuk (minimal) meliriknya belum ada. Hingga akhirnya, tim dari Bentang Pustaka mengirimkan judul ini untuk dibaca. Didorong oleh hal tersebut (dan juga karena saat itu tengah kehabisan bacaan), dicicipilah.

Kambing dan Hujan mengingatkan pembaca dengan Kisah 1001 Malam pada cara bertutur. Ya, dengan menggunakan narasi cerita berbingkai, nyatanya buku ini malah menjadi semakin menarik. Apakah pembaca akan merasa kebingungan? Ternyata tidak. Malah menjadi daya tarik tersendiri. Dibantu dengan pembeda berupa font face yang dipilih, memudahkan pembaca untuk memahami dimana timeline cerita itu berada.

Berkisah tentang dua anak manusia yang sama-sama memperjuangkan cinta kasihnya. Perbedaan memang begitu besar, namun keduanya mau mengurangi ego masing-masing demi dapat bersama. Nyatanya, menikah tidak semudah itu. Belum juga dijalani, masih untuk menayakan restu kedua orangtua, kesulitan demi kesulitan terus menyerang. 

Mif dan Fauzia, dua sejoli yang memohon untuk bersatu ternyata menguak lembaran-lembaran lama yang sudah tidak pernah terjamah. Permasalahan-permasalahan sosial yang tidak sesederhana itu. Dari situlah mereka berdua belajar masa lalu keluarga. Sebab, menikah di Indonesia, apalagi di desa Centong, berarti menikahi seluruh keluarga besarnya, mengadaptasi nilai-nilai yang dipegangnya. 

Apa yang dituliskan oleh Mahfud Ikhwan memang menggunakan dua pandangan terhadap Islam. Itu hanya contoh, tetapi tidak bisa dipungkiri juga bahwa yang seagama pun masih sulit untuk mendapatkan restu menikah. Mahfud Ikhwan mengangkat mengenai Islam di Centong sembari menunjukkan kepada pembaca betapa masyarakat di pedesaan memiliki tali persaudaraan yang begitu erat pun berpegang teguh terhadap kepercayaannya. Oleh karena itu, terciptalah jurang antara keluarga Mif dengan keluarga Fauzia. Namun, Mahfud Ikhwan tidak hanya menonjolkan perbedaan yang menyebabkan layunya tali silaturahmi. Mahdud Ikhwan juga menggarisbawahi mengenai perbedaan yang bukanlah sebuah masalah, melainkan ego masing-masing golongan. 

Mahfud Ikhwan seakan ingin menyampaikan, terkadang yang membuat rumit menikah adalah tatanan sosialnya. Padahal dua insan yang akan menjalaninya toh bisa dan mau menerima perbedaan mereka sebagai santapan sehari-hari. Mahfud Ikhwan ingin menyederhanakan perihal itu. 

Gaya penulisan Mahfud Ikhwan yang sangat memperlihatkan kehidupan di pedesaan mengingatkanku dengan tulisan Tohari. Apalagi Mahfud Ikhwan juga sempat menyinggung kondisi Indonesia di tahun 60-an. Tentu dengan adanya kisah mengenai PKI dan mereka yang disebut sebagai komunis. Mahfud Ikhwan berhasil membuktikan bahwa roman yang ia tulis, bukan sekedar roman. Ia telah melakukan riset sehingga tulisannya tidak memaksa pembaca untuk segera mengerti. Malah berhasil membuat pembaca terbuai dan memutuskan untuk terus membaca hingga akhir.

Kambing dan Hujan berhasil membuatku tunduk. Gemas dan penasaran dengan tingkah keluarga Mif dan Fauzia. Yang tentu, merupakan sebuah bacaan layak untuk dinikmati.

No comments:

Post a Comment