Saturday, November 26, 2016

Generasi Langgas

Generasi Langgas: Millenials Indonesia
Penulis: Yoris Sebastian, Dilla Amran, & Youth Lab
Jumlah halaman: 212 halaman
Tahun terbit: 2016
Penerbit: GagasMedia
Format: paperback
Harga: Rp.88.000 di Gramedia
Rating Shiori-ko: 3/5
Sinopsis:

Buku ini bercerita tentang generasi millennials di Indonesia. Mereka yang lahir tahun 1980 hingga 2000. Di tangan merekalah, penentuan apakah Indonesia akan mendapatkan bonus demografi di tahun 2020 atau malah sebaliknya.

Generasi millennials bisa dibilang sangat berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya sehingga baik di lingkup pekerjaan maupun di rumah, suka tidak mudah untuk dipahami. Tidak heran bila millennials sering kali diberi cap yang kurang baik.

Generasi instan? Generasi copas? Generasi nggak mau susah?

Buku ini memberikan pandangan berbeda. Saya percaya bahwa millennials ini bisa menjadi generasi terbaik yang pernah ada di Indonesia. Itu kalau generasi ini mau mengambil inspirasi positif dari berbagai sumber, terutama dari teman-teman mereka yang sama-sama millennials juga.

Life is not about finding yourself.

Life is about creating yourself.

Resensi Shiori-ko:
Disebebkan karena pekerjaan, aku seringkali harus mencari tahu tentang generasi Millennials. Generasi seusiaku dan mereka yang lebih muda dariku. Alhasil, ketika Yoris Sebastian mengeluarkan buku Generasi Langgas, aku rasa, mungkin aku akan mendapatkan informasi baru yang selama ini selalu luput dari pengamatan. Plus, aku juga sudah tahu bagaimana kreatifnya Yoris dalam menerbitkan buku. Seperti yang satu ini; judul dibiarkan "kosong" supaya pembaca bisa berkreasi. Persis seperti buku Oh My Goodness!

Gaya Bahasa, Kosa Kata, dan Penyampaian
Buku Generasi Langgas dibawakan dengan bahasa yang sangat ringan. Yoris sengaja membuat buku ini bisa dihabiskan dalam sekali duduk. Belum lagi dengan perpaduan warna biru muda, putih, dan hitam membuat buku ini tidak monoton. 

Yoris memberikan beberapa kosa kata baru yang belum awam di kalangan pembaca pada umumnya. Seperti istilah "Generasi Langgas" itu sendiri. Sehingga, Yoris pun memutuskan untuk memberikan pijakan awalnya supaya ia bisa "membawa" pembaca pada informasi-informasi yang lebih jauh tentang Generasi Langgas. 

Isi Buku
Aku berekspektasi kalau buku ini bisa memberikanku informasi yang lebih dari sekedar yang aku baca di internet. Wajar saja, karena seperti yang sudah kutuliskan, aku sedang ingin membaca buku-buku tentang Millennials.

Ternyata dugaanku (agak) meleset. Buku ini memberikan informasi yang sudah aku tahu. Seperti misalnya, bahwa Generasi Langgas memang menginginkan sesuatu yang serba cepat, memiliki kecenderungan untuk berpindah kerja lebih cepat ketimbang generasi yang sebelumnya. Ujung-ujungnya, semakin ke belakang buku ini malah menjadi semacam buku How To. Mengajarkan kepada pembaca muda (yang memang merupakan target pembacanya) untuk dapat tetap keep up with the world tanpa kehilangan jati dirinya.

Namun, yang berbeda dari buku ini ketimbang artikel-artikel Millennials yang aku baca, Yoris memberikan pandangan dari sudut yang berbeda. Seperti misalnya ketika sebagian besar manusia berkomentar negaif terhadap keinginan instant para Millennials. Bagi Yoris, malah sikap yang seperti itu menjadi sebuah tantangan, baik untuk para generasi sebelumnya maupun organisasi. Bagaimana bisa memanfaatkan "instant culture" Generasi Langgas menjadi suatu hal yang produktif. Berarti, budaya organisasi harus ikut berubah, misalnya. Hal-hal yang selama ini luput dari perhatian generasi sebelumnya karena terlalu sering memberikan pendapat negatif terhadap para Millennials. 

Selain itu, setiap eksemplar buku Generasi Langgas dilengkapi dengan stiker. Sampul sengaja terdapat sosok dengan kepala botak (pun tidak diketahui juga apa gender-nya). Menggunakan satu set stiker yang terdiri dari bermacam-macam atribut manusia (baju, rambut, kacamata, topi), pembaca diajak mengkostumisasi sendiri buku Generasi Langgas miliknya. 

Saran Shiori-ko:
Menambah koleksi buku Yoris boleh saja. Tetapi, aku tidak merasa buku ini memberikan banyak informasi. Memang, Generasi Langgas yang di Indonesia memiliki perbedaan dengan Generasi Langgas yang ada di Amerika. Namun, untuk dirangkum dalam satu buku, aku rasa masih kurang.

No comments:

Post a Comment